
Oleh Anton Dere
Di tengah dinamika zaman yang kian cepat dan serba digital, gereja katolik di tingkat paroki menghadapi tantangan besar: bagaimana agar kehadiran gereja bukan sekadar rutinitas liturgis, melainkan menjadi sapaan kasih yang merasuk hingga ke relung nurani umat. Karya pastoral yang efektif bukanlah tentang megahnya gedung gereja atau padatnya jadwal kegiatan, melainkan tentang sejauh mana kehadiran tersebut mampu membalut luka dan menguatkan iman umat dalam keseharian mereka. Agar mereka merasa mengalami iman yang bersekutu dengan Tuhannya.
Kongregasi MSFS misi Indonesia, yang terpusat di paroki SFS Pada, peduli akan kesenjangan ini. Empat hal menjadi refleksi bersama.
1. Pastoral melalui Kehadiran:
Lebih dari sekadar administrasi,
karya pastoral yang merasuk nurani dimulai dari kehadiran. Kehadiran pemimpin umat di antara mereka akan menggugah imannya dekat pada Allah, dan membuka mata hatinya untuk mengalami persekutuan dengan Allah Tritunggal. Kristus tidak menyelamatkan dunia melalui instruksi tertulis, melainkan dengan menjadi manusia dan tinggal di antara kita, dalam peristiwa inkarnasi sebagaimana kita rayakan setiap Natal tiba. Di tingkat paroki, tim pastor, Dewan Pastoral Paroki, dan aktivis gereja lainnya perlu mempraktekkan “pastoral mendengarkan”.
Ketika seorang pastor atau pengurus lingkungan bersedia duduk di ruang tamu keluarga yang sedang berduka, atau mengunjungi umat yang sakit tanpa terburu-buru, di sanalah gereja sedang berbicara. Di sanalah ada mementum mendengarkan dari dua arah, dari umat dan dari imam atau pemimpin umat lainnya. “Lumen Gentium” mengingatkan bahwa “Gereja adalah sakramen keselamatan”; kehadiran fisik yang penuh empati adalah tanda nyata dari kasih Allah yang tak terbatas, tanda nyata Kristus di dunia ini. Dan pesan konsili ini yang telah dan sedang diterapkan di paroki SFS Pada-keuskupan Larantuka, dengan KBG sebagai fokus dan lokus Pastoral.
2. Liturgi yang “Hidup” dan “Memulihkan”
Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani. Namun, agar liturgi merasuk ke nurani, ia harus dirayakan dengan kedalaman makna dan yang kudus, bukan sekadar kewajiban ritual. Homili yang relevan dengan pergumulan hidup umat; seperti masalah ekonomi, tantangan mendidik anak di era media sosial, hingga kesepian di usia tua, menjadi “roti” yang mengenyangkan jiwa insan manusia saat ini, yang perlu diterapkan di wilayah paroki SFS Pada.
Liturgi yang menyentuh nurani adalah liturgi yang membuat umat merasa pulang ke rumah Bapa, di mana mereka diterima dengan segala kerapuhannya dan pulang dengan harapan baru, yang mampu melepaskan pengalaman kejatuhan dosanya menuju kebangkitan iman yang menyelamatkan jiwa kelak.
Dengan memiliki tiga orang pastor asal India ini, umat merasa memiliki momentum yang dekat dengan Tuhan, dalam setiap layanan Pastoral dalam perayaan Ekaristi di setiap stasi/lingkungan, juga kunjungan keluarga, misa di KBG, bantuan solidaritas bagi korban bencana alam dan keluarga Katolik yang kurang mampu, dan pelayanan iman sakramental.
3. Keberpihakan pada yang terpinggirkan.
Nadi dari karya pastoral yang sejati adalah kepedulian terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD). Paroki yang nuraninya hidup tidak hanya sibuk dengan urusan internal, tetapi memiliki mata yang jeli melihat tetangga atau umat di pinggiran yang kesulitan makan atau sekolah.
Melalui ketiga imam misionaris asal India yang aktif ini, paroki mewujudkan wajah gereja yang murah hati. Tindakan nyata membantu sesama tanpa memandang latar belakang adalah khotbah yang paling kuat bagi masyarakat luas. Sudah banyak “khotbah berjalan” yang telah imam misionaris ini lakukan melalui bantuan pendidikan tingkat SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi bagi keluarga Katolik yang tidak mampu. Di aspek ekonomi lainnya bantuan sembako bagi para jompo, pemberdayaan ekonomi umat katolik berupa peternakan, dan bahan sembako bagi UMKM OMK.
Ini adalah bagian dari karya Pastoral yang dikemas dalam judul*”kotbah berjalan”*
4. Membangun Persekutuan (Koinonia) yang Inklusif
Seringkali, umat merasa asing di parokinya sendiri karena merasa tidak masuk dalam “lingkaran elit” pengurus. Karya pastoral yang merasuk nurani harus mampu meruntuhkan sekat-sekat ini. Komunitas Basis Gerejani (KBG), stasi atau Lingkungan harus menjadi tempat di mana setiap orang dikenal namanya, didengar suaranya, dan dihargai kehadirannya. Karya misi ini dikemas dalam beberapa kegiatan pastoral berupa APP, katekese bulan Kitab Suci Nasional, dan memberikan ruang bagi setiap KBG untuk selalu melaksanakan doa bersama bulan Maria, bulan Rosario dan arisan pada setiap malam minggu. Inilah raut paroki SFS pada lima tahun terakhir.
Pesan yang patut kita peluk erat dalam lubuk iman kita umat katolik adalah “Menjadi garam yang melebur, agar menjadi santapan rohani yang enak”
Akhirnya sebuah pertanyaan sebagai refleksi kita bersama sebagai umat SFS Pada, : Apakah umat semakin merasakan kasih Tuhan merasuk nurani melalui pelayanan kita?
Karya pastoral yang merasuk nurani adalah karya yang tidak lagi mencari kemegahan diri, melainkan yang berani “melebur” seperti garam. Ia tidak terlihat secara mencolok, namun memberikan rasa dan menghindari kebusukan moral di tengah masyarakat. Mari kita terus bergerak dari pastoral organisasi menuju pastoral hati, demi kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam).
“Akhiri tahunmu 2025 dengan sukacita, dan sambut tahun barumu 2026 dengan penuh harapan”. Demikian peneguhan iman dalam homili singkat pater Swarna Anil Kumar, MSFS dalam misa tutup tahun, Rabu (31/12/2026)***
<*Komsos paroki SFS Pada-keuskupan Larantuka*>
Suka.
Terima kasih.